Monday, June 24, 2019

Bhayangkara Ke-73, Membuka Pandangan Tentang Polisi



Polisi, kata atau profesi ini sudah tidak asing di telinga masyarakat, mereka adalah orang-orang yang di biyayai oleh negara untuk menjaga kemanan masyarakat. Ya Polisi sebagian orang banyak bercerita bahwa adanya oknum-oknom yang terkadang menggunakan status sebagai polisinya menjadi sesuatu yang menakutkan bahkan juga menyebalkan. 

Menurut saya secara pribadi bahwa orang yang takut dengan polisi terdiri dari beberapa hal, yang pertama pemahaman tentang kepolisian masih kurang, atau bisa jadi orang tersebut takut karena melakukan kesalahan. Nah dari rasa takut itu muncul rasa dongkol karena merasa terbatasi padahal polisi bukanlah mahluk yang menyeramkan selagi kita tidak melakukan kesalahan. 

Sedikit pengalaman tentang polisi yang membuat saya benci waktu sekolah dahulu. Pada saat saat naik motor, bapak-bapak polisi dari kejauhan sudah terlihat menyebalkan karena waktu itu saya belum memiliki SIM (surat Izin Mengendarai) dan tidak mengunakan hlem, dalam benak saya "Pak polisi itu cari uang makan siang" makanya lakukan razia, terpaksa saya berputar mencari helem milik teman.

Rasa dongkol dan rasa takut menyatu, karena terlihat gugup saat melewati titik razia walaupun saya sudah mengunakan helm pinjaman dari teman, ya saya tetap di tahan, "Selamat sore de, bisa liat surat-suratnya, dengan muka pucat saya perlihatkan STNK karena tidak punya SIM ya terpaksa di tilang. Karena pengalaman ini saya sempat benci dengan polisi tapi setelah saya masuk kuliah dan berkerja sebagai jurnalis akhirnya saya memahami tujuan mereka mulia mereka memang ditugasakan untuk menjaga kita. Seseorang harus memiliki SIM pada saat mengendarai kendaraan agar mengetahui kemahiran seseorang dalam berkendaraan di jalan. Dengan tujuan tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Tujuan mereka mulia mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada masyarakat, namun terkadang kita atau sebagian masyarakat menafsirkan berbeda, jadi mari bijak dalam bersikap. Meskipun ada oknom-oknom polisi yang tidak sesuai dengan ketentuan, namun kita tidak boleh menyamaratakan semua pihak kepolisian. Sampai detik ini saya menyakini masih banyak polisi yang memiliki kredibilitas dari pada oknum-oknum polisi-polisi yang tidak berkualitas.


Melalui tulisan singkat ini saya secara pribadi mengucapkan selamat hari Bhayangkara ke-73 teruslah menjadi pengayom masyarakat.

Sayyid Hasan 

Sunday, June 16, 2019

Terimakasih PLN Dan Terimakasih PDAM



Sedikit mengulas tentang sesuatu yang perlu diapresiasi, untuk mengawali blog ini saya sedikit memberikan cerita tentang kondisi beberapa tahun lalu di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang tercinta  saat ini saya jadikan tempat mata pencarian.
Perlu saya sampikan bahwa saya tidak memuji ataupun melebih-lebihkan apa yang saat ini saya rasakan dan mungkin juga di rasakan masyarakat di daerah saya ini, yaitu Kabupaten PPU. 

Seperti yang saya katakan pada paragraf awal saya akan menceritakan dua atau empat tahun sebelumnya kondisi daerah tetang keluhan masyarakat. Seperti yang saya suguhkan judul terimakasih PLN terimakasih PDAM. Beberapa tahun yang lulu saya bagian dari orang yang selalu mengeluhkan kondisi pelayanan PLN maupuan PDAM, kalau PDAM mungkin saya tidak begitu merasakan namun keluhan masyarakat sering kali saya tuangkan dalam tulisan karena kebetulan saya berkerja sebagai kuli tinta (wartawan) di salah satau perusahan media terbesar di Kalimantan Timur.

Tahun-tahun sebelumnya masyarakat sangat mengeluhkan pelayan PLN maupun PDAM, kita mulai dari PLN. Biyarpet atau pemadaman lampu secara tiba-tiba, nah biyarpet sering menjadi judul dalam setiap tuslisan saya, dan memang kondisi ini dirasakan masyarakat ya termaksuk saya. Ketika sedang mengetik berita lampu tiba-tiba padam, rasa dongkol saya memuncak terlebih lagi ketika saya belum sempat menyimpan tulisan saya di komputer, parahnya lagi ini terjadi berulang-ulang kali.

Sebenarnya saya memahami betul apa yang menjadi kendala PLN pada saat itu, ya... memang kekurangan daya. Namun kenapa saya tetap menulis berita itu sering kali, karena saya memiliki alasan dengan harapan pemerintah dapat memberikan solusi terkait kondisi kurang daya yang terjadi di PPU pada saat itu. 

Dari tulisan itu sumpah serapah netizen di Facebook luar biasa kepada PLN, ada yang mengatakan PLN bodoh, PLN makan gaji buta dan masih banyak lagi sumpah serapah lainya, ya ujung-ujungnya pemerintah juga terseret-seret ikut disalahkan. Ada hal yang menarik juga tentang biarpet di bulan puasa, anehnya pada masa bertepatan pada bulan puasa pemadaman sering terjadi di waktu menjelang berbuka ataupun saat sahur, kembali warga internet di mediasosial FB kembali melempakan sumpah serapah.

Begitupun dengan PDAM PPU, warga sering kali dikeluhkan dengan air berbau, tidak mengalir dan berwarna hitam, meski tidak separah PLN, PDAM kebagian jatah sumpah serapah warga FB. Dan juga masuk dalam tulisan yang saya buat pada saat saya aktif di media cetak tentang keluhan masyarakat.

Kondisi inilah yang membuat saya menulis atau mencerikan apa yang seharusnya kita lakuakan menurut saya ???. Melalui tulisan singkat ini saya sampikan jika beberapa tahun lalu PLN dan PDAM tak semaksimal saat ini, kita terkadang melupakan apa yang terjadi beberapa tahun lalu. Jika dua perusahaan ini dulu tak semaksmial saat ini kita terkadang sengaja mencerca dan memaki. Meskipun saat ini belum seutuhnya sempurna namun kondisi biyarpet dan ari tidak mengalir tidak kita rasakan separah tahun-tahun yang lalu.

Melalui tulisan ini saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada PLN dan PDAM yang sudah memberikan kinerja yang berbeda dan dirasakan masyarakat di bandingkan beberapa tahun lalu. Yang saya lakukan ini karena saya pikir untuk PLN dan PDAM sudah memberikan perubahan kearah pelayanan yang kian membaik. Sekali lagi terimakasi kepada PLN dan PDAM dan semoga pelayanan terus mebaik. Aminnn...... mari kita berikan apresiasi yang memang harus diberikan apresiasi.


ayoo ikuti terus tulisan-tulisan saya selanjutnya, sedikitnya akan menuliskan tulisan terbaru dalam satu minggu sekali dari semua hal yang akan kita bahan dan mari berdiskusi.



Sayyid Hasan